Kunci Mengelola "Mind Identity"
05 April 2018
Ratna Kartika
0
Kunci Mengelola
PR adalah suara dari merek perusahaan.
Freandy/PR INDONESIA

SURABAYA, PRINDONESIA.CO - Begitu kata Almira Shinantya, Managing Director DM-ID Brand Consultant. Sebegitu dahsyatnya kekuatan brand (merek), terutama yang memiliki kedekatan emosi, tanpa disadari memengaruhi konsumen dalam memutuskan sesuatu. Termasuk, salah satunya, memengaruhi keputusan mereka dalam membeli produk. "Itulah mengapa reputasi brand harus dijaga sedemikian rupa," kata perempuan yang didapuk sebagai pemateri dalam workshop series yang diadakan PR INDONESIA bertajuk "Pengelolaan Brand dan Reputasi" di Surabaya, Rabu (28/3/2018). 

Di hadapan peserta workshop, ibu dua anak itu mengulas strategi mengelola brand dan reputasi di tengah ekosistem PR yang baru. Menurut Almira, hal utama yang harus dilalukan saat mengelola branding adalah  memikirkan tentang reason for being--alasan kenapa brand tersebut dibuat. 

Pemikiran yang Almira sebut sebagai mind identity itu akan menjadi landasan ke mana branding akan bergerak dan yang harus dilakukan untuk membangun persepsi publik. Landasan inilah yang harus dipahami humas/PR. "PR bukan hanya membuat pernyataan terhadap sesuatu, tapi juga terlibat secara strategis dalam membuat dan mengelola brand,” ujarnya tegas.

Kunci dari bagaimana mengelola brand, masih menurut Almira, yakni membentuk dan mengelola mind identity, behaviour identity, dan visual identity. Pemahaman akan nilai-nilai kehidupan dan energi positif harus dimiliki oleh seluruh jajaran internal perusahaan. "Sikap dalam pelayanan yang kita berikan kepada konsumen akan menjadi behaviour identity kita yang akan terus mereka ingat. Visual identity, logo, sebagai hal pertama yang dilihat oleh orang, harus bisa membangun persepsi positif publik terhadap brand," paparnya. Ketiga hal ini harus saling bersinergi satu sama lain untuk bisa menaikkan brand dan reputasi perusahaan. 

Lebih lanjut ia mengatakan, PR is the voice of the brand. Keberadaannya memainkan fungsi penting dalam membangun persepsi perusahaan. "PR mengelola suara-suara dari luar supaya persepsi yang mau dikedepankan dari sebuah brand bisa perlahan dan konsisten dibangun,” tutur Almira seraya menekankan pentingnya keterkaitan  personas dan personalities antara corporate brand dengan semua merek.

Era digital, dimana segalanya lebih terbuka dan mudah, menuntut PR lebih kritis dan cepat bergerak. “Situasi berubah, brand juga perlu beradaptasi," katanya. Namun, era ini juga membuka peluang seluasnya bagi PR untuk melakukan dan memperkuat branding melalui media daring. (rsd/rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST