Cara Tepat Atasi “Glossophobia”
04 April 2018
Ratna Kartika
0
Cara Tepat Atasi “Glossophobia”
Ketakutan berbicara di depan publik memengaruhi kualitas kehidupan dan berdampak negatif bagi perkembangan karier.
Rache/PR INDONESIA

SURABAYA, PRINDONESIA.CO –Ketakutan berbicara di depan umum itu lazim disebut dengan glossophobia. Ketakutan ini harus segera diatasi terlebih bagi mereka yang sehari-harinya harus melakukan komunikasi efektif seperti public relations (PR). Apalagi, ketakutan berbicara di depan publik ini ternyata memengaruhi kualitas kehidupan dan berdampak negatif bagi perkembangan karier.

Untuk itu, Kepala Sub Direktorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Direktorat P2Humas Direktorat Jendral Pajak Ani Natalia Pinem mengajak peserta workshop series “Public Speaking for PR Officer, Teori dan Praktik” untuk mengenali gejala-gejala glossophobia di Surabaya, Rabu (28/3/2018). Di antaranya, blushing, sweating, trembling, palpitations, nausea, stammering, rapid speech.

Untuk meminimalisasi ketakutan atau kegugupan, perhatikan hal berikut ini. Verbal terdiri dari ketinggian suara, intonasi, kesopanan, nada, pengertian, kecepatan, dan lafal ucapan. Lalu, nonverbal meliputi postur dan gestur, kontak mata, orientasi, presentasi, penampilan, ekspresi emosi. “Sebanyak 66 persen yang diperhatikan publik adalah yang justru ada di luar teks. Ekspresi juga merupakan faktor penting saat berbicara di depan umum,” kata perempuan yang tercatat sebagai Indonesian Professional Speakers Association (IPSA).

Selanjutnya, lakukan persiapan yang cukup, raih atensi publik dalam 90 detik pertama, sampaikan tujuan, bicara terstruktur (intro, body disertai data dan fakta, closing), tepat waktu, suara, humor, dan penutup berupa catatan/kesimpulan/renungan/kutipan. Menurut Insan PR INDONESIA 2017 ini, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan atensi penonton seperti mengeluarkan pertanyaan, cerita, dan melempar humor. Tak lupa, ia menekankan pentingnya mengorganisasi topik utama mulai dari kronologi, data spasial, masalah, sampai solusi. 

Bicaralah sembari tersenyum, lakukan kontak mata dengan penonton, menyontek ke catatan sesekali saja, tepat dalam bersikap, beri pertanyaan retorika (pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab) untuk memancing keterlibatan audiens.  Adapun tips yang tak dianjurkan saat berbicara di depan umum antara lain membaca langsung dari catatan atau layar, membelakangi audiens, meletakkan tangan di dalam saku, terlalu sering bergumam “um, ah, you know”, gestur yang menampakkan kegugupan, bicara terlalu cepat atau pelan.  

Di akhir sesi, perempuan yang karib disapa Kakak Ani ini mengajak peserta praktik membuat persiapan sebelum melakukan public speaking. (frd/rtn)

 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST