PR Terbarukan
04 April 2018
Ratna Kartika
0
PR Terbarukan
"Future of communication", komunikasi pakai "feeling" yang tetap menjaga emosi dan karakter perusahaan.
Freandy/PR INDONESIA

SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Sekarang, PR tak lagi seperti dulu. Setidaknya, Magdalena Wenas, pembicara di acara workshop series bertajuk “Mengelola Trust Industri Keuangan Dalam Ekosistem PR Yang Terbarukan” merangkum empat tugas pokok profesi PR masa kini. Antara lain, policy maker, communication  auditor, analyst, dan strategist.

Menurut Magda, begitu ia karib disapa, PR bukan pemadam kebakaran yang hadir ketika ada masalah. Keberadaannya tidak untuk mengatasi krisisnya saja, tapi menyangkut keberlangsungan dan mempertahankan kredibilitas usaha. “PR Tidak hanya manage for tomorrow, tapi real-time dan lifetime,” katanya di hadapan peserta workshop yang diselenggarakan PR INDONESIA jelang malam puncak PR INDONESIA Awards (PRIA) di Surabaya, Rabu (28/3/2018).

Apalagi di zaman era digital yang sebagian besar target audiens perusahaan adalah pengguna aktif internet dan media sosial. “Intinya, PR harus cerdas sesuai zaman,” imbuh Presiden PR Society Indonesia.

Begitu menantang peran PR, sampai-sampai kariernya bisa lekas melejit jika yang bersangkutan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. “Kenapa karier PR cepat menanjak? Karena mengelola dan meyakinkan publik untuk trust kepada perusahaan di era seperti sekarang ini sulit,” ujar Magda mengaku.

 

Komunikasi Masa Depan

Sebagai communication auditor, misalnya, PR dituntut mampu melakukan analisis komunikasi di segala bidang dalam setahun baik komunikasi dalam bentuk tertulis maupun digital. Hasil analisis itu akan memudahkan PR untuk menentukan hal-hal dari perusahaan yang menjadi prioritas untuk dikomunikasikan kepada stakeholders. “Kita jadi tahu apa saja yang menjadi prioritas PR yang perlu kita susun strategi komunikasinya. Komunikasi yang tidak dibutuhkan bisa diminimalisasi, anggaran yang dikeluarkan perusahaan pun menjadi lebih efektif,” katanya.

Menurut Magda, setidaknya ada lima faktor yang memengaruhi reputasi perusahaan sebagai perusahaan yang dapat dipercaya (trusted reputation). Antara lain, tanggung jawab sosial, produk dan pelayanan, lingkungan kerja, kepemimpinan, emotional appeal. Yang pasti, lanjutnya, pastikan sistem di perusahaan tempat kita bekerja sudah berjalan dengan baik sebelum PR melakukan smart communication.

Bahkan, saat ini, mendengarkan konsumen saja tidak cukup. Untuk menyetabilkan reputasi perusahaan, PR dituntut mampu mempertemukan antara tujuan organisasi (organization objective) dengan ekspekstasi stakeholder. “Zaman sekarang, kalau tidak bisa menepati janji, lebih baik tidak usah sama sekali,” katanya tegas.

Untuk itu, lakukanlah strategi future of communication. Yakni, komunikasi yang bermakna yang tetap menjaga emosi dan karakter perusahaan. “Berkomunikasi itu harus dengan feeling.  Baik atau tidak baik sama saja asal kita dapat mendorong dan menunjukkan kepada stakeholders bahwa perusahaan terus berupaya dan bergerak ke arah yang lebih baik,” ujarnya seraya mengingatkan peserta agar mengedepankan prinsip Arthur W Page dalam berkomunikasi. Tell the truth, not only half, lebih baik diam daripada hanya bicara setengah. (iqb/rtn)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST