Catatan Juri PRIA 2018: PR Jangan Defensif
08 Maret 2018
Ratna Kartika
0
Catatan Juri PRIA 2018: PR Jangan Defensif
PR itu tentang totalitas. Dia adalah figur perusahaan.
Dok. PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Usulan ini berawal dari Magdalena Wenas, salah satu juri sesi presentasi untuk kategori Program PR, Departemen PR, Marketing PR, dan Digital PR. Adapun latar belakangnya, menurut PR INDONESIA Guru ini, dikarenakan presentasi bukan hanya sekadar membangun percakapan, tapi berkaitan dengan kemampuan presenter memahami permasalahan. “Dia harus mampu berdialog dengan pengetahuan yang dimiliki, lalu menjawabnya sesuai koridor,” katanya.  Ia melanjutkan, “Sehingga, yang dikirim ke sini, benar-benar presenter yang menguasai permasalahan,” tambah Magda, sapaan karibnya.

Usulan Presiden PR Society Indonesia itu mendapat tangapan positif dari juri lainnya. Salah satunya, Troy Pantouw, Senior Consultant AIS Training & Consulting. Menurut pria yang pernah menjabat sebagai Corporate Communication Director Danone AQUA selama hampir tujuh tahun itu, secara umum program yang disampaikan para peserta sudah sesuai ekspektasi juri. Selanjutnya, tinggal dielaborasi, diperdalam dan disempurnakan lagi. Terutama, dalam hal hal teknik menjelaskan.

Apalagi, Troy melanjutkan, waktu untuk menjelaskan sangat singkat, tujuh menit saja. Maka dari itu, peserta perlu menyusun strategi untuk dapat menjelaskan secara keseluruan, walaupun tidak semuanya Tapi, bisa mewakili kinerja yang sudah dilakukan, berikut prestasi, tantangan dan peluangnya.  “Perlu dicatat, perlombaan ini bukan sekadar untuk mengetahui siapa juaranya dan mencari yang paling unggul. Ini adalah ajang untuk kita saling belajar dan membuka wawasan,” ujarnya.  

Aspek lain yang tidak boleh dilupakan saat melakukan presentasi dalam waktu singkat, menurut Troy, adalah teknik memaparkan kesulitan yang dihadapi, berikut solusinya. Sayangnya, selama dua hari didapuk menjadi juri, ia belum melihat ada peserta yang mampu melakukan teknik tersebut secara terstruktur dan baik. Sebaliknya, yang tertangkap dari lensa dewan juri justru sikap defensif. “Mempertahankan pernyataan bahwa kami sudah bertindak yang terbaik memang tidak salah. Tapi, yang paling tepat, pernyataan itu seharusnya datang dari persepsi masyarakat,” katanya seraya menggarisbawahi, penilaian juri bukan hanya berdasarkan dari kualitas program, tapi kemampuan PR dalam merepresentasikan perusahaannya secara tepat. “PR itu tentang totalitas. Dia adalah figur perusahaan,” ujarnya.  

Troy lantas memberi tips. Ketika akan melakukan presentasi, lakukan time organization dan management. Soroti poin yang ada kaitannya dengan program yang akan disampaikan. Selanjutnya, lakukan diskusi internal dan presentasi ke internal. “Diuji dulu agar internal bisa menilai, sekaligus memastikan mereka sudah memahami dan memetik pesan dari informasi yang kita sampaikan,” tutupnya. (rtn/zen/ans)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST