Catatan Juri PRIA 2018: GPR Lampaui Ekspektasi
08 Maret 2018
Ratna Kartika
0
Catatan Juri PRIA 2018: GPR Lampaui Ekspektasi
PRIA 2018 berikan gambaran dunia PR di Indonesia yang semakin berkembang.
Dok. PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Magdalena Wenas, PR INDONESIA Guru, mengaku terpukau dengan program public relations (PR) yang dipresentasikan para peserta. Terlebih, program-program yang disampaikan para peserta PR pemerintah (government PR), yang menurut pendapatnya, melampaui ekspektasi. “Dari dua kali ini saya menjadi juri untuk PRIA, lompatan mereka tahun ini luar biasa,” kata perempuan yang karib disapa Magda, kagum.

Salah satu peserta GPR yang menjadi sorotan, tak hanya Magda, tapi juga keempat dewan juri lain, adalah Kementerian Keuangan. Melalui program #sadarAPBN, peserta yang meraih trofi Platinum di ajang serupa tahun lalu itu mampu membuktikan kapasitasnya sebagai PR Kemenkeu “Zaman Now”. Dewan juri menilai program itu sebagai program yang dinamis, solutif dan dikomunikasikan dengan komunikatif kepada publik. 

Dari hasil pemaparannya, Magda melihat adanya kesungguhan dari kementerian yang dinakhodai Sri Mulyani tersebut dalam menjalankan aktivitas kepiarannya. “Mereka mendirikan Departemen Komunikasi, mampu mengeksekusi komunikasi digital dengan baik, mengevaluasi kinerjanya dengan jelas, dan lebih fokus dalam menata stakeholders atau audiensnya,” papar Presiden PR Society Indonesia ini.

Yang lebih menggembirakan, langkah-langkah ini mulai diikuti oleh GPR lain. Sebut saja Pemprov Jawa Barat, Pemkot Bandung, Pemkot Tangerang, hingga Pemkot Surabaya. Itu artinya, Magda melanjutkan, sudah ada revolusi cara berpikir di instansi pemerintah, khususnya di bidang komunikasi/PR bahwa PR itu jangan lagi old school, tapi harus bisa menjawab tantangan sesuai zamannya.

Jika kondisi ini berkelanjutan, Magda percaya, ke depan tak akan ada lagi sekat. Bahkan, negeri ini bisa mengklaim memiliki spesialis komunikasi yang andal dan profesional. “Tidak ada lagi si A itu PR BUMN, si B itu PR pemerintah. Kita semua sama: PR Indonesia yang bertanggung jawab,” ujarnya seraya menambahkan profesi PR di Indonesia saat ini sedang menuju titik strategis yang profesional.  

Secara keseluruhan, ia juga memuji peserta PRIA tahun ini, terutama dari segi performa saat mempresentasikan program. “Mereka sudah profesional dalam melakukan presentasi,” katanya. Hal ini makin teruji saat sesi tanya jawab. Para peserta mengakui kelebihan dan kekurangan program/departemennya, disertai alasan dan upaya yang telah/sedang dilakukan. “Ini penting karena PR itu harus transparan, kredibel dan bisa dipercaya. Penilaian kami pun jadinya clear,” imbuh nenek dari dua cucu itu.

Menyambung pernyataan Magda, Ariani Djalal, juri dari Kantor Staf Presiden mengatakan transformasi PR pemerintah dari old school ke zaman now itu tak terlepas dari capacity building yang rutin diadakan untuk para pelaku humas pemerintah. Selanjutnya, yang perlu ditingkatkan adalah eksekusi dan relevansi dalam membuat program PR. “Pemprov Jabar yang mengusung Ngopi Sarasona, misalnya. Dari sisi ide sudah bagus, tinggal bagaimana mengomunikasikan kemudahan membudidayakan dan berwirausaha kopi. Karena, yang “dijual” pemerintah itu kan kebijakannya,” ujar perempuan berkaca mata ini.

Kekaguman serupa dirasakan oleh juri Troy Pantouw. Menurut Senior Consultant AIS Training &Consulting itu, dunia PR baik di korporasi swasta nasional/multinasional, BUMN, maupun pemerintah saat ini sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. “Struktur dari PR, rata-rata sudah ditempatkan secara tepat di leher perusahaan. Artinya, pengambil keputusan PR langsung bertanggung jawab kepada direktur perusahaan, dan itu bagus!” kata pria yang sebelumnya dikenal sebagai Corporate Communications Director Danone AQUA.

Lainnya yang menjadi sorotan dewan juri adalah hampir semua peserta menyasar millennial dalam mengomunikasikan program PR mereka. Kondisi ini memberikan kelebihan tersendiri bagi juri Janette Maria Pinariya. Dekan London School of Public Relations (LSPR) Jakarta yang kesehariannya banyak bersinggungan dengan generasi muda itu dapat lebih proporsional dan objektif dalam memberikan penilaian. (rtn/zen/ans) 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST