Begini Tips Membuat "Feature"
07 Pebruari 2018
Ratna Kartika
0
Begini Tips Membuat
Berita kisah (feature) memungkinkan penulis menciptakan sebuah cerita yang enak dibaca dan menyentuh emosi pembaca
Ratna/PR Indonesia

PADANG, PRINDONESIA.CO – Khusus di acara “The 17th PR Indonesia Workshop Series: Understanding Media Policies in Digital Era & Creative Writing for Corporate Publication”, PR INDONESIA selaku penyelenggara, merangkul para praktisi PR untuk mengasah kemampuan menulis feature. Hadir sebagai pemateri, Lahyanto Nadie, Redaktur Senior Bisnis Indonesia.

Feature adalah artikel yang kadang-kadang subjektif dengan tujuan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan. “Tidak seperti menulis berita biasa, menulis berita kisah memungkinkan kita menciptakan sebuah cerita yang enak dibaca dan menyentuh emosi pembaca, ” kata Lahyanto di hadapan 55 peserta workshop di Padang, Selasa (6/2/2018).

Meski terkesan bebas, tata cara penulisan feature tetap terikat pada etika jurnalistik. Antara lain, tulisan disertai data yang akurat, berimbang, mengandung unsur 5W+1H, tidak ada batasan panjang tulisan tapi tidak boleh bertele-tele, lengkap, jelas (clear). “Feature merupakan ragam tulisan jurnalistik, bukan fiksi,” katanya.

Kuncinya, kata Lahyanto, fokus dalam menentukan topik cerita, deskriptif karena feature adalah gabungan reportase, observasi dan kemampuan meramu kata-kata secara efektif, beri anekdot atau cuplikan kejadian lucu/menarik, sempurnakan dengan kutipan langsung.

 

Praktik

 Setelah menyampaikan teori dan beberapa tips menulis feature, Lahyanto lantas mengajak peserta untuk praktik. Peserta dibagi ke dalam delapan kelompok. Tiap kelompok diminta untuk menunjuk pemimpin rapat, menentukan topik features, lalu merangkai kalimat hingga menjadi cerita yang menarik. Keriuhan di ruangan menjadi tak terhindarkan. Tiap anggota sibuk memberi usulan dan berdiskusi memilih tema terbaik untuk kelompoknya. Mereka juga ditugaskan untuk membuat teras berita (lead).

Sesekali Lahyanto berkeliling untuk memberi saran. Antara lain, ringkas, jangan mengobral kata-kata yang malah mengurangi keefektifan lead, jangan lebih dari empat baris, gunakan kata-kata aktif, dan hindari penggunaan kata yang mengandung lebih dari lima suku kata (contoh: me-nge-je-wan-tah-kan).

Selama menjalankan tugas yang diberikan Lahyanto, tak sedikit peserta mengalami kesulitan. Umumnya, mereka kesulitan menghubungkan antarkalimat, cerita tidak mengalir atau cenderung melompat-melompat.  Menurut pria kelahiran 22 September 1964 ini, kondisi tersebut terjadi disebabkan peserta tidak membuat kerangka tulisan sebelum menulis berita.   

Kepada para peserta, ia meminta PR untuk terus berlatih menulis. Melalui tulisan, PR dapat menempatkan profesinya di posisi yang strategis. Lewat tulisan pula, PR dapat mengomunikasikan informasi yang edukatif, informatif, kritis, sekaligus menghibur. “Tanpa orang-orang PR, Indonesia bukan apa-apa,” tutupnya. (deb/rtn)

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST