Cara PR Menyikapi Pemberitaan Negatif di Media Digital
06 Pebruari 2018
Ratna Kartika
0
Cara PR Menyikapi Pemberitaan Negatif di Media Digital
Karakteristik media digital umumnya informasinya cepat, tapi dangkal, cara termudah untuk menyebarkan hoaks, serta identik hanya mengejar traffic.
Ratna/PR Indonesia

PADANG, PRINDONESIA.CO - Kanal komunikasi public relations (PR) makin bertambah dengan hadirnya media sosial dan digital. Keberadaan keduanya tak hanya memudahkan PR dalam hal berkomunikasi, tapi juga berpotensi menimbulkan risiko baru. Ya, reputasi perusahaan rentan goyah karena isu negatif, hoaks, hingga fake news dapat berkembang dengan mudahnya dan menjadi viral.

Berhadapan dengan tantangan baru itu, menurut Pemimpin Redaksi TEMPO Arif Zulkifli, ada dua hal yang harus dilakukan praktisi PR. Pertama, kenali karakteristik media sosial dan digital. Kedua, pahami cara pelaku media itu bekerja.

Karakteristik informasi yang bersumber dari media sosial dan media on-line umumnya informasinya cepat, tapi dangkal, cara termudah untuk menyebarkan hoaks, serta identik hanya mengejar traffic. “Beritanya dangkal karena semua orang ingin menjadi orang yang paling pertama dalam hal menyebarkan informasi (citizen journalism),” kata Azul, begitu ia akrab disapa. “Akibatnya unsur-unsur jurnalistik seperti 5W+1H dan verifikasi tidak terpenuhi. Kondisi ini akan menjadi fatal karena dapat menimbulkan kesalahpahaman dan pemahaman yang kacau di masyarakat,” lanjutnya.

 

Karakteristik

Lalu, bagaimana jika kondisi ini terjadi di perusahaan tempat kita bekerja? Azul mengatakan, pada dasarnya kode etik media digital tidak kalah ketat dengan media konvensional. Namun, media digital diberi kelonggaran dalam aspek verifikasi. Mereka dapat menayangkan berita yang belum dikonfirmasi tapi disertai dengan catatan/keterangan. Kondisi ini dimungkinkan karena karakteristik media digital sebagai pemberi informasi tercepat dan terpedan. Mereka juga wajib menayangkan ulang berita yang sudah diperbaiki dengan menyertakan keterangan bahwa berita tersebut adalah perbaikan dari berita sebelumnya yang belum sempurna.

 “Jika pelaku media digital tidak menyertakan keterangan bahwa berita yang mereka tayangkan belum dikonfirmasi dan tidak membuat berita lanjutan, apalagi berita itu menyangkut perusahaan Anda, PR bisa melapor ke Dewan Pers,” katanya.

Bahkan, kalau perlu, Azul melanjutkan, buat aliansi bersama media lain apabila berita yang disebarkan bersumber dari oknum yang tidak berbadan usaha. “Pakai logika profesional saja kalau kita berhadapan dengan media digital atau sosial,” katanya. “Kepercayaan terhadap akun media sosial dan media digital dapat di lihat dari jumlah pengikutnya. Pastikan yang mau dipersoalkan, ukur jangkauan medianya,” sambung Azul.

Berikan informasi yang jelas dan sumber pendukung yang mampu memberikan pembenaran. Komunikasikan informasi dan sumber pendukung itu dengan memanfaatkan kanal informasi seperti media sosial dan laman resmi yang dimiliki perusahaan.

Kenali, pahami dan kuasai kemauan audiens agar media sosial yang dimiliki perusahaan diminati dan dapat menjangkau banyak pembaca. “Follow media-media yang sedang diminati masyarakat, tekuni dan pelajari,” katanya.   

Sementara untuk mengantisipasi beredarnya isu, hoaks dan fake news yang berpotensi merusak reputasi, PR harus menjadi investigator internal. “Lakukan identifikasi dini terhadap hal-hal yang berpotensi menjadi isu, ketahui perkara selengkapnya, kuasai lanskapnya,” kata Azul.

Pastikan kedekatan dengan wartawan terjalin dengan baik. Salah satunya melalui seminar dan workshop untuk wartawan. “Jadilah PR yang low profile,” ujarnya. Jangan mengelak ketika ditemui dan dihubungi wartawan. Jika menghindar, sama artinya PR menyiakan-nyiakan kesempatan emas untuk melakukan verifikasi. (may/rtn)

 

 

 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

TERPOPULER

FIGUR

WAWANCARA

PR ON MAGAZINE

LATEST POST