Evi, PR Manager Bukalapak: "PR Sepenuh Hati"
07 Januari 2018
Ratna Kartika
0
Evi, PR Manager Bukalapak:
Jadi PR jangan kaku. Harus dilakukan dari hati dan tulus.
Dok. Pribadi

Evi Andarini - PR Manager Bukalapak

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Kedekatannya membangun relasi tampak dari caranya berinteraksi dengan media, termasuk upayanya membina hubungan dengan asisten rumah tangga. “Jadi PR itu enggak boleh kaku. Harus dilakukan dari hati dan tulus,” kata Evi. Ia beralasan, “Kita tidak akan pernah tahu bakal bertemu lagi dengan orang yang sama di suatu persimpangan,” imbuh ibu dari seorang putri berusia 11 bulan yang ditemui PR INDONESIA di Jakarta, Senin (6/11/2017)

Evi bergabung sebagai PR Manager di Bukalapak sejak Februari tahun lalu. Sebelumnya, ia sempat bekerja di Microsoft, agensi PR, hingga PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. selama empat tahun. Dunia PR memang sudah menjadi panggilan jiwanya sejak kuliah di FISIP Universitas Indonesia. “Zaman kuliah sudah terbayang di benak saya ingin kerja di konsultan PR, setelah itu ke korporat,” katanya. Untuk menyempurnakan ilmunya, ia berangkat ke Jogja guna menempuh S2 di bidang manajemen ekonomi Universitas Gadjah Mada. Langkah itu ia ambil karena percaya PR tidak hanya dituntut fasih berkomunikasi tapi juga mengerti operasi bisnis dari hulu ke hilir. 

Menjadi PR di industri e-commerce memiliki tantangan besar. Industri yang sedang bertumbuh ini menuntut semua pelakunya selalu kreatif dan inovatif. Saking kreatifnya, program PR yang sudah dirancang selama setahun kerap berubah tiap empat bulan sekali. Belum lagi, tim PR baru terbentuk saat ia bergabung ke perusahaan marketplace yang menginjak tahun ketujuh itu. “Pace-nya cepat, kompetitornya banyak, persaingannya ketat,” kata wanita yang mengaku butuh waktu mempelajari industri e-dagang.

Selain merapatkan barisan tim internal, ia juga mendorong manajemen bekerja sama dengan pemerintah. “Mubazir jika membuat program di luar program pemerintah,” ujar Evi. Yang pasti, programnya harus selaras dengan visi, misi perusahaan, dan sejalan dengan pesan CEO mereka, Achmad Zaky: mengangkat local wisdom, tidak mengekor, inovatif, kreatif, dan adaptif.

Akhirnya, lahirlah kampanye Pahlawan Ekonomi Kreatif. Program yang bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) itu menarget 1.000 UKM goes digital. Tingginya antusiasme publik membuat program yang merangkul Komunitas Pelapak dan Penggerak Pelapak tersebut diikuti hingga 2 juta peserta. Puncaknya, kampanye ini bukan saja bermanfaat bagi masyarakat, tapi juga mendapat apresiasi dari tingkat nasional seperti PR Indonesia Awards (PRIA) yang diselenggarakan PR INDONESIA, hingga internasional seperti Marketing Interactive PR Award untuk kategori Best PR-Led Integrated Campaign, Best PR Consumer Program 2017, dan Tangram Award.  

 

Masak  

Di sela kesibukannya, Evi kerap mengisi waktunya untuk memasak. Siapa yang mengira, perempuan berparas cantik ini mahir memasak masakan Jawa Timur, tanah kelahiran ibunya, seperti rawon. “Sebagai perempuan, kita juga tidak boleh lupa kodrat. Nanti kalau anak minta dimasakin, kita mau masak apa?” ujarnya seraya tertawa.

Soal membagi waktu bukan menjadi isu bagi Evi. Ia bersyukur perusahaan tempatnya bekerja menjunjung worklife balance. Ia tak harus datang pagi dan pulang malam. “Saya masih bisa berangkat dari rumah jam 08:30, main dulu sama anak dan mengurus kebun. Yang penting standby, selalu siap berkoordinasi, handphone aktif 24 jam,” kata perempuan yang masih menyisakan ruang mimpi untuk menjadi dosen itu. rtn 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

TERPOPULER

FIGUR

WAWANCARA

PR ON MAGAZINE

LATEST POST