Generasi "Zaman Now", Tak Selalu soal Digital
13 November 2017
Ratna Kartika
0
Generasi
Perlu ilmu menjalin "engagement" yang efektif  dengan generasi Y.
Dok. Pribadi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Alasannya tak lain karena dunia memasuki era baru, era digital. Zaman di mana informasi berseliweran dengan cepat memenuhi lini massa, tools komunikasi kian beragam, hingga terbitnya hukum baru: informasi tidak boleh disimpan lama-lama. “Tinggal klik-klik, muncul semua informasi yang dibutuhkan,” kata pemilik nama lengkap Gilang Sasmoyo itu kepada PR INDONESIA di Jakarta, Kamis (12/10/2017). “Semua jejak informasi beserta hal yang kita/perusahaan lakukan pun bisa dilacak dan tercatat di mesin pencari,” tambahnya.

Kondisi ini memaksa praktisi PR, khususnya generasi millennial yang identik sebagai kaum digital savvy, mau tidak mau harus inovatif mencari konten kreatif yang bisa masuk ke segala lini usia dan memiliki tendensi untuk disebarkan (shareable) oleh warganet. “Karena kebutuhan tersebut, generasi millennial di kantor kami dilatih berpikir secara innovative analitical. PR didorong untuk terus mencari inovasi-inovasi dari tools komunikasi yang terus berkembang,” ujar pria kelahiran Jakarta, 6 Desember 1991.

Selain itu, mereka dituntut mampu bekerja cepat karena semua konten menjadi lebih mudah basi. “Terlambat sedikit, konten kita tidak bakal terangkat di media konvensional, apalagi oleh media on-line dan sosial,” imbuhnya. Terakhir, PR dipastikan harus digital fluent secara teknis. Terlebih, tiap media sosial punya coding masing-masing yang berubah secara dinamis setiap hari. “Kita harus mengikuti aturan yang mereka buat dan berstrategi sehingga konten kita dapat tersebar lebih maksimal,” kata bungsu dari dua bersaudara.

Tak jarang, kata dia, tantangan justru datang dari dalam. Khususnya, generasi yang usianya jauh di atas mereka. Mereka harus mampu meyakinkan dan menyamakan persepsi tentang pentingnya peran digital di era ini. Beruntung, budaya di perusahaan tempatnya bekerja cenderung terbuka, tak terkecuali jika usulan itu datangnya dari para junior. Gilang justru berpendapat, rentang usia antarkaryawan tidak seharusnya menjadi hambatan. Dua generasi yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing itu dapat saling mengisi dan berkolaborasi. “Kami mungkin dilatih lebih digital, tapi mereka yang senior terlatih untuk lebih mengetahui kondisi di lapangan. Mereka lebih tahu seberapa potensial ide yang kami sampaikan itu bisa diterapkan di dunia nyata,” paparnya bijak.

 

“Millennial’s Way”

Singkat kata, digital akan terus berkembang dan perkembangannya akan dekat dengan aktivitas kepiaran. “Tahun ini boleh jadi flow untuk media sosial hanya di Instagram dan kawan-kawannya. Ke depan, siapa yang akan tahu? Yang pasti, tools komunikasi yang bisa dijadikan opportunity bagi PR akan berkembang makin banyak. Strategi PR pun terus berubah semakin dinamis,” ujarnya. “Isu yang dihadapi mungkin sama, tapi cara mengomunikasikannya berbeda sesuai perkembangan,” imbuh pehobi fotografi dan basket.

Agar menjadi tangguh, para generasi penerus PR sudah pasti harus terus mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi komunikasi terkini. Menariknya, di tengah yang lain sibuk memacu diri untuk dapat beradaptasi dan menguasai ilmu digital, Gilang merasa perlu memperdalam ilmu cara berinteraksi secara personal di tengah semakin banyaknya orang berkomunikasi tanpa bertatap muka sebagai bekalnya di masa depan. “Tantangan ke depan itu how to interact people in millennial’s way. Apakah cukup dengan media sosial? Seperti apa cara menjalin engagement yang efektif  dengan mereka?” katanya seraya bertanya.

Sementara ini, ia mengaku sangat terbantu dengan pelatihan yang rutin diadakan di Danone mulai dari komptensi umum, PR, leadership, sampai psikologi. Namun, ia berencana kembali masuk bangku kuliah untuk memperdalam ilmu PR atau marketing communication. rtn

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST