PR Digital Harus ada Benang Merah
09 November 2017
Ratna Kartika
0
PR Digital Harus ada Benang Merah
Sudah waktunya perusahaan berbenah diri.
Data APJI

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Saat ini upaya public relations (PR) untuk berkomunikasi secara efesien dan efektif dapat ditempuh dengan memanfaatkan media sosial. Dari cerita yang dibangun melalui media sosial, perusahaan bisa menunjukkan nilai tambah dan diferensiasi perusahaan dibandingkan kompetitor. “Bukan lagi soal banyaknya jumlah yang nge-share, likes atau follow. Tujuan akhirnya, membangun kepercayaan, loyalitas dan semakin banyak orang yang bersedia membeli produk kita,” kata Vishnu Mahmud, Director of Business Development Ogilvy PR kepada PR INDONESIA di Jakarta, Jumat (29/9/2017).  

Menurut Vishnu, cara ini terbilang ampuh, terutama bagi perusahaan yang bergerak di industri yang punya banyak pemain atau startups dengan modal terbatas. Asalkan, dilakukan dengan benar, konsisten dan sungguh-sungguh. “Kita bisa memulainya dengan memanfaatkan blog diikuti Instagram atau media sosial lainnya sesuai karakter target audiens,” katanya. “Berceritalah tentang visi, misi perusahaan, budaya kerja, hingga produk yang kita produksi,” imbuhnya.

 

Mudah, Asal...

Berstrategi memanfaatkan peran media sosial ini sebenarnya mudah diimplementasikan. Menjadi terlihat sulit atau kurang mendapat dukungan apabila: Pertama, terbentur oleh kebijakan dan kekurangtahuan perusahaan/manajemen sehingga terjebak pada paradigma lama. “Sudah waktunya perusahaan berbenah diri melakukan riset dan mengisi ulang proses bisnis mereka,” kata mantan Head of Communications Google Indonesia itu. Karena isunya saat ini bukan lagi soal perlu atau tidaknya perusahaan memaksimalkan media sosial, tapi dunia menjadi serba digital, dan digital membantu proses bisnis perusahaan.

Contoh, hasil dari eksposur di media sosial serba terukur. Mulai dari mengetahui jumlah pengunjung laman atau media sosial, pertumbuhan dari sisi jumlah pengikut, engagement, hingga percakapan yang sedang berkembang atau populer. Dampaknya, memudahkan pengukuran Key Performance Index (KPI).

Kedua, perlu adanya transparansi dan kolaborasi antardivisi. Karena ada cerita yang harus dibangun dan disampaikan secara terencana dan berkelanjutan, PR harus tahu apa yang sedang/akan dikerjakan bagian marketing, produk, media sosial, dan seterusnya. Begitu pula sebaliknya. Untuk itu buatlah tim yang membuat konten semua program antardivisi secara terintegrasi.  

“Kumpul bareng sehingga perusahaan bisa membuat sistem dan semua divisi dapat turut andil,” katanya. “Ketika kita mengetahui time line antardivisi, kita bisa membuat konten sesuai target audiens yang kesemuanya merujuk pada satu benang merah,” ujarnya.

Ketiga, siapa yang bertanggung jawab. Karena merupakan kerja tim, boleh jadi pengelolaannya tidak langsung berada di bawah PR. Tapi, PR memiliki suara yang kuat untuk menghubungkan semua divisi. “Bukan soal (peran) PR is dead atau marketing is dead. Ini hanya the new forum of communications, ” imbuhnya.

Ketika perusahaan memutuskan bermedia sosial, pastikan mereka sudah siap mental untuk bersikap transparan. Ketika tidak transparan atau tidak segera merespons saat ada keluhan, grafik kepercayaan terhadap perusahaan langsung merosot tajam. “Keluhan tak perlu dihindari. Itu adalah bentuk kepedulian konsumen terhadap produk kita,” katanya. Segera minta maaf dan perbaiki kesalahan. Setelah selesai, mintalah yang bersangkutan untuk kembali membagikan pengalamannya di medsos. rtn

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST