Strategi PR Mengomunikasikan Sains
26 Oktober 2017
Ratna Kartika
0
Strategi PR Mengomunikasikan Sains
Perlu kolaborasi intensif antara peneliti dengan humas.
Ratna/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Kebutuhan mengomunikasikan sains makin penting seiring kian pesatnya perkembangan dan peran teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, banyak hasil penelitian hanya menjadi lembar literatur karena tidak dikomunikasikan.

Menurut Ika Sastrosoebroto, Head of Organizational Development Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI), inti dari komunikasi adalah menyampaikan informasi dengan bahasa sesederhana mungkin. Mengomunikasikan sains menjadi unik karena ada banyak istilah keilmuan yang belum bahkan sulit dipahami masyarakat. Di sisi lain, para ilmuan umumnya tidak cukup terlatih untuk berkomunikasi.

Untuk menjembataninya, perlu ada kolaborasi. PR dapat menjadi fasilitator bagi para peneliti untuk mencapai tujuan para ilmuan, membuat milestone, merajut benang merah, hingga menentukan timing. “PR memiliki ketajaman menerjemahkan dari awareness sampai loyality beyond reason—mengemas, membangun ekosistem, hingga menciptakan tren,” katanya.  Jadi, bukan berarti karena PR mengomunikasikan sains, dia lantas menjadi pakar. “PR itu pekerjaannya wrapping dan distribusi isu. Konten sains tetap milik para peneliti,” katanya.  

 

Panjang dan Terstruktur   

Bagi Farah Mulyasari, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina, mengomunikasikan sains itu seni. Seperti saat ia bersama timnya mengomunikasi Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi terbaru mereduksi emisi CO2 menggunakan metode menangkap dan menyimpan karbon ini akan mulai diaplikasikan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tahun depan. Mereka pun ditantang untuk membuat perjalanan komunikasi dan edukasi kepada pemangku kebijakan dan masyarakat di daerah pilot project.

Perjalanan komunikasinya, kata Farah, terbilang panjang dan harus terstruktur. Mulai dari memformulasikan informasi dan memodifikasi pesan yang tadinya rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami publik, mengolah informasi ke dalam berbagai bentuk seperti booklet, laporan, pamflet, infografis, dan membuat simulasi mini. Selanjutnya, memastikan cara menyampaikan pesan, kepada siapa pesan itu ditujukan, hingga siapa orang yang ditunjuk untuk menyampaikan pesan tersebut.

Untuk meningkatkan pemahaman, interaksi dilakukan dua arah baik melalui forum group discussion dengan para pemangku kebijakan dan masyarakat lokal maupun berbagi ilmu dengan para peneliti. Selanjutnya, seeing is believing, membawa masyarakat ke tempat lokasi.

Tantangan serupa dirasakan oleh Nur Tri Aries Suestiningtyas,  Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), humas berkewajiban menyuarakan karya-karya dan pesan ilmiah dari sekitar 1.500 peneliti LIPI lintas keilmuan serta merepresentasikan LIPI sebagai litbang kelas dunia. “Kolaborasi intensif antara peneliti dengan humas itu penting,” katanya. Sebagai PR, mereka dituntut untuk selalu up to date terhadap informasi dan sains terkini, banyak mendengar dan menulis. Sementara untuk menjembatani keterbatasan pemahaman humas, mereka pun mendorong peneliti menjadi science communicator.  rtn

  

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST