Etika PR Bermedia Sosial 
30 September 2017
Ratna Kartika
0
Etika PR Bermedia Sosial 
Humas hotel diajak mengoptimalkan media sosial yang beretika.
Ratna/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Pertemuan rutin yang diadakan Himpunan Humas Hotel (H3) Jakarta yang mengangkat tema "Public Relations in Digital World" kali ini menghadirkan Petty Siti Fatimah, Chief Editor & Chief Community Officer Femina Media, selaku pembicara. Dalam materinya, perempuan lulusan Marketing Communications Universitas Indonesia itu menyorot perlunya kehati-hatian dalam berkirim pesan saat berkomunikasi menggunakan media sosial atau social media messenger. Sebab, tanpa adanya tatap muka dapat menimbulkan pemahaman yang multitafsir. Di sisi lain, berkomunikasi dengan memanfaatkan social media messenger tak bisa dihindari apalagi bagi PR yang roh profesinya adalah menjaga relasi. 

Beberapa isu yang harus diwaspadai antara lain kesalahpahaman, teks tanpa konteks, penggunaan emoticon, tata cara menyapa, sense of time, penggunaan kalimat tidak baku. "Teks tanpa konteks membuat lahirnya tweet war. Orang mudah bereaksi dan makin berani menghina karena tidak bertatap muka," katanya. "Sementara sejak dunia dalam genggaman, dorongan untuk memberi emoticon, menyapa tidak formal, hingga penggunaan bahasa slang begitu kuat," imbuhnya seraya mengingatkan penggunaan bahasa tidak tepat dapat memperburuk komunikasi. Tentu, kondisi ini berbahaya bagi PR. 

Kuncinya, kontrol diri. Bagi Petty, setiap komunikasi apa pun bentuknya, baik digital maupun analog memiliki aturan masing-masing. "Ketika kita berkomunikasi dalam setting formal maka lakukan komunikasi itu secara formal. Gadget hanya alat perantara, tapi yang berbicara dalam komunikasi itu tetap antarmanusia yang memiliki hierarki dan respect, bukan dengan mesin," ujar perempuan yang berprinsip "Your contact is asset".

Sementara itu, Head of Consumer Costumer Engagement of Combiphar Nita Kartikasari, yang hadir sebagai pembicara kedua, mengajak para humas hotel untuk memanfaatkan peluang dengan mengoptimalkan keberadaan media sosial. Apalagi tren travelling belakangan ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Seharusnya, kondisi ini diikuti dengan semakin tingginya tingkat hunian kamar hotel. "Hotel itu sebenarnya punya banyak aset yang bisa dikembangkan oleh PR," ujar penulis buku berjudul Viral itu seraya memberi contoh peluang PR hotel lainnya dalam memanfaatkan musim menikah dengan menawarkan paket bulan madu melalui metode storytelling.

Intinya, kata dia, PR saat ini bukan hanya pandai berbicara, tapi harus mau mendengar. Ketahui minat dan keseharian target market luar-dalam. "Pastikan siapa target marketnya, ketahui apa kesukaannya, adanya di mana, aktivitas kesehariannya apa saja," ujarnya. "Dari situ kita tahu dimana kelebihan dan kekurangan hotel kita dalam memenuhi keinginan mereka. Setelah itu biasanya kita akan dengan mudah menemukan ide-ide kreatif," bebernya.

Jangan lupa, rangkul influencer untuk mendorong publik membicarakan produk seperti yang diinginkan oleh PR. "Sebab, ada satu lagi syarat PR: pandai dalam memengaruhi publik," pungkasnya. (yko/rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST