Rika Anjulika, Communication Advisor Aetra:
08 September 2017
Ratna Kartika
0
Rika Anjulika, Communication Advisor Aetra:
Tunjukkan kepribadian yang mencerminkan identitas perusahaan.
Dok. Pribadi

Rika Anjulika - Communication Advisor PT Aetra Air Jakarta 

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Menurut Rika, mengabdi di perusahaan yang didominasi lelaki seperti tempatnya bekerja, perusahaan pengadaan air bersih Aetra Jakarta bukan suatu perkara besar. Ia meyakini Tuhan melahirkan semua insan ke dunia dengan peran dan keistimewaan masing-masing. Di dunia bekerja, pria memang umumnya lebih banyak ditempatkan di bidang pekerjan bersifat teknis, tapi perempuan bisa melakukan pendekatan lain yang bernilai dan dibutuhkan perusahaan.

Percaya atau tidak, kata Rika, sudah bawaan lahir, perempuan bisa lebih hati-hati dan cermat ketika berhadapan dengan orang lain dalam menyelesaikan persoalan. Kekhasan yang dimiliki perempuan itu membuat kaum Hawa juga memiliki andil yang sama, bahkan melebihi dari yang diharapkan perusahaan. “Perempuan bisa menjadi peredam, sehingga masalah yang terjadi di perusahaan bisa ditangani lebih baik,” ujar Rika di tengah padatnya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan perusahaannya di Jakarta, Selasa (4/4/2017).

Memulai karier di PAM Jaya, lulusan PR dari Universitas Moestopo itu malang melintang berkecimpung sebagai humas. Ketika PAM Jaya mengusung misi baru, Layanan Prima, Rika termasuk ke dalam tim Pelayanan Prima One Day Service di PT Aetra Air Jakarta. Di perusahaan yang sebelumnya bernama PT Thames PAM Jaya tersebut, ia ditempatkan sebagai koordinator call center. Pengalaman ini membentuk karakternya ketika diberi amanah sebagai PR tahun 2011. “Call center mengajari saya bahwa sebagai PR harus punya jiwa melayani yang baik,” katanya.

Di samping hal tadi, ada dua kebiasaan yang harus dimiliki PR. Kebiasaan yang dia maksud adalah niat baik dan pikiran positif. “Kalau sudah ada niat baik, akan ada seribu dorongan besar yang mendukung langkah kita,” ujarnya.

 

Jaga Etik

Rika ingin senantiasa menjunjung dan menjaga etik PR, agar publik mampu memahami PR sebagai agen perubahan, bukan output atau pembelian. “Kalau masih bersifat output, akhirnya PR sibuk main di advertorial ketimbang membangun relationship yang sifatnya humanis dan personal,” katanya.

PR bukanlah ilmu eksak yang serba pasti melainkan ilmu manusiawi. Suatu ilmu yang berkaitan erat  dengan kesediaan memberi dan melayani. “PR bukan soal bagaimana kita menjual, tapi menunjukkan kepribadian yang sebenarnya yang mencerminkan identitas perusahaan saya,” tambahnya.

Di tengah tantangan dunia usaha yang kian kompleks, ancaman yang menghampiri perusahaan bisa datang sewaktu-waktu dan tak bisa diprediksi. Kondisi ini membuat perusahaan membutuhkan peran PR. Besarnya harapan di pundak PR, membuat profesi ini tak lagi identik dengan perempuan cantik. Lebih dari itu, pintar, jitu membuat strategi komunikasi, mampu memberikan informasi yang baik kepada khalayak, dan selalu siaga menjadi perisai memperjuangkan perusahaan.

Tentu untuk menjawab tantangan perlu pengakuan dan dukungan top management. Untuk itu, ia berharap semakin banyak perusahaan yang menyadari peran PR dan menempatkan PR di posisi strategis, di leher direksi. “Selama ini humas kebanyakan hanya diletakkan di pojokan sekadar untuk membantu proses bisnis. Saya tidak ingin begitu dan saya memperjuangkan tercapainya peran strategis humas di perusahaan,” kata perempuan yang mengagumi sosok Prita Kemal Gani dan Magdalena Wenas itu. rtn

 

 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST