Hadapi Gelombang “Hoax”, Sambut Generasi Y  
02 Agustus 2017
Ratna Kartika
0
Hadapi Gelombang “Hoax”, Sambut Generasi Y   
PR dihadapkan pada fenomena gelombang berita palsu dan generasi Y.
Freandy/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Sejumlah praktisi dihadirkan pada acara yang akan berlangsung di Yogyakarta, 23 – 25 Agustus 2017 mendatang. Mereka adalah Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Niken Widiastuti, Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Tedjakusuma, dan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli.

Ketiganya akan membuka plenary session pertama mengulas tema “The Power of Public Relations in the Fake News & Hoax Era” dari perspektif latar belakang profesi masing-masing. Mulai dari upaya pemerintah, cara jitu melakukan verifikasi, hingga upaya media agar tetap menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi yang dapat dipercaya publik.

Sementara praktiknya akan disampaikan di hari kedua, “How to Handle Hoax and Fake News to Strengthen Corporate Reputation”. Pada workshop di kelas pertama itu, President of PR Society Indonesia Magdalena Wenas akan mengulas strategi PR menghadapi gelombang fake news, diikuti CEO Indonesia Media Centre Budi Purnomo yang mengupas teknik dan taktik menaklukkan fake news

Namun, teknik dan taktik tidak akan berhasil tanpa didukung fondasi yang kokoh. Founder Merdi Intar Sinau Maria Wongsonagoro dan founder EGA briefings Elizabeth Goenawan Ananto akan meletakkan kembali peran PR dalam membangun reputasi. Mengangkat tema

“Public Relations, Is It Cost or Investment? The Role of PR to Build Corporate Reputation”, Maria akan mengulas tujuh tahapan yang harus dilakukan PR dalam membangun reputasi perusahaan mulai dari situational analysis hingga stakeholder mapping. “Tanpa itu (hanya berdasarkan asumsi), semua strategi akan meleset,” imbuh salah satu PR INDONESIA Gurus saat menghadiri acara PR INDONESIA Meet Up #12 di Jakarta, Jumat (14/7/2017). 

 

“Millennials”

Topik lainnya yang tak kalah menarik sekaligus mengisi tema plenary session kedua adalah strategi PR dalam memahami generasi Y atau millennials. Founder The London School of PR (LSPR) juga President of ASEAN PR Network Prita Kemal Gani dan VP Corcomm PT Telkom Indonesia Tbk. Arif Prabowo hadir untuk mengulas pengalaman mereka mengelola dan memahami cara berpikir kaum millennials hingga menjadikan mereka aset praktisi PR yang profesional di masa depan. Sementara Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo bakal mengisahkan upaya pemerintah menangkap pemikiran generasi millennials untuk menyusun narasi yang menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa. Contohnya, tentang kebhinekaan.

Para pelaku PR generasi Y pun hadir. Di workshop PR INDONESIA Youth Boot Camp, para mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dari seluruh universitas di penjuru Indonesia akan dipertemukan dengan Nike Yosephine (Telkom) dan Yuni Miyansari (Bio Farma), para Icon PR INDONESIA 2016 – 2017. Mereka bakal berbagi pengalaman menjadi PR muda profesional. “Kita sebagai generasi yang akan menjadi penerus tongkat estafet tidak boleh sombong. Sebaliknya, kita harus belajar dari mereka dan berkolaborasi karena setiap generasi punya karakter dan kelebihan masing-masing,” ujar Nike kepada PR INDONESIA di Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Berupaya merangkul semua lintas generasi PR, JAMPIRO #3 membuka kelas khusus para PR pemula. Pada workshop “A – Z Public Relations: From Writing Skill to Social Media Handling” untuk PR under 30 hadir pemateri seperti Koordinator Grup Editorial Network Bisnis Indonesia Lahyanto Nadie dan CEO Bangwin Consulting Abang Edwin. Kelas CSR pun kembali hadir. Kali ini pembicaranya Maria Dian Nurani, Wakil Ketua Komite Tetap Social Responsibility KADIN. Perempuan yang juga Komite Tetap Tanggung Jawab Sosial SNI 26000 itu mengulas tema “Kreativitas CSR di Era Digital bagi Keberlanjutan Perusahaan”.  

Jadi, pilih kelasnya dan sampai jumpa di Jogja! rtn

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST