Asa GAPKI Melawan Kampanye Negatif Sawit
06 Juni 2017
Hanifudin Mahfudz
0
Asa GAPKI Melawan Kampanye Negatif Sawit

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Kampanye negatif masih menjadi tantangan sektor kelapa sawit di Indonesia. Salah satu kampanye negatif paling menantang tahun ini adalah Resolusi Parlemen Uni Eropa yang menuduh minyak sawit Indonesia sebagai penyebab deforestasi, terjadinya pelanggaran HAM, hingga tuduhan adanya pekerja anak (child labour) di perkebunan sawit. Bahkan, mereka meromendasikan agar industri berbahan baku minyak nabati di Eropa mengganti minyak sawit dengan minyak nabati lainnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menilai, dasar terbitnya Resolusi Parlemen Uni Eropa tersebut tidak didasari oleh fakta objektif di lapangan, sangat tendensius, dan ancaman untuk memboikot produk minyak sawit untuk digantikan dengan minyak nabati lain adalah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Resolusi Parlemen Eropa itu lebih sebagai psywar kepada Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.

“Ini membuktikan bahwa kampanye negatif terhadap sawit tidak hanya dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat, tetapi juga melibatkan pemerintah dan parlemen dari negara-negara Barat tersebut dengan berbagai isu yang berganti-ganti. Satu isu negatif bisa dipatahkan, isu negatif baru muncul, demikian seterusnya,” kata Joko Supriyono dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekjen GAPKI Togar Sitanggang pada acara Buka Puasa Bersama GAPKI di Hotel Ayana, Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Ia menegaskan, selama minyak sawit menjadi nomor satu dalam pasar minyak nabati dunia, selama itu pula kampanye negatif sawit dari negara-negara produsen minyak nabati non sawit, akan terus ada. Terkait Resolusi Parlemen Uni Eropa, GAPKI menyampaikan terima kasih dan mendukung penuh langkah pemerintah Republik Indonesia dan DPR yang melawan resolusi tersebut.

Namun, ia menyayangkan, kampanye negatif terhadap sawit tidak hanya datang dari luar negeri. Di dalam negeri sendiri, masih banyak kelompok masyarakat yang percaya dengan berbagai isu dan kampanye negatif terkait sawit. Di antaranya terkait kebakaran lahan dan hutan, pengelolaan lahan gambut, penguasaan segelintir korporasi besar atau konglomerasi dalam sektor perkebunan kelapa sawit nasional, isu ketenagakerjaan, dan berbagai isu sosial lainnya.

“Terkait kampanye negatif di dalam negeri ini, kita patut iri dengan Malaysia di mana di negeri jiran yang menjadi produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia tersebut, seirama dengan langgam pemerintah dan parlemen mereka, seluruh kelompok masyarakat satu suara mendukung penuh keberadaan dan keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit sebagai motor penggerak perekonomian negara Malaysia,” katanya.

Berita Positif Naik

Di tengah gencarnya kampanye negatif sawit, GAPKI mengapresiasi peran media di Indonesia dalam mendukung sawit nasional. Data Bidang Komunikasi GAPKI menunjukkan, pemberitaan sawit dari tahun ke tahun kian membaik. Pada 2009 sekitar 80 persen pemberitaan di media cetak, online, dan elektronik terkait sektor kelapa sawit bernada negatif, tapi pada 2016 sebanyak 55 persen berita bernada positif, 25 persen netral, dan 20 persen sisanya masih negatif.

“Kepada rekan-rekan media, saya menyampaikan terima kasih atas dukungannya melalui pemberitaan-pemberitaan yang semakin objektif tentang sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia, sehingga bisa mengimbangi masifnya kampanye negatif terhadap sawit. Semoga sinergi dan hubungan baik ini akan terus terjalin di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.

Kendati capaian positif berhasil ditorehkan di media konvensional, tapi hal itu tidak pararel dengan capaian di media sosial. Karena hingga saat ini, berbagai platform media sosial, terutama Facebook dan Twitter, menjadi sarana paling efektif dari berbagai LSM untuk secara masif melalukan kampanye negatif terhadap sawit.

“Ini tantangan dan pekerjaan rumah bagi Bidang Komunikasi GAPKI agar juga bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye positif sawit. Dengan sedikitnya 24 juta penduduk Indonesia menggantungkan mata pencahariannya dari sektor kelapa sawit, misalnya 5 persen saja dari mereka adalah para pengguna media sosial, maka ada 1,2 juta rakyat Indonesia yang siap melawan kampanye negatif sawit,” tegasnya.

Selain kampanye melalui media sosial, GAPKI juga terus melakukan kampanye melalui komunitas seperti perguruan tinggi untuk menyebarkan berbagai hasil riset tentang sawit. Salah satunya dalam bentuk buku berjudul Mitos VS Fakta, Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute. (nif)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST