“Sori” Roti
02 Januari 2017
Hanifudin Mahfudz
0
“Sori” Roti

Silih Agung Wasesa 

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan PR Indonesia (APPRI)

 

Judul artikel di atas bukan typo. Sengaja saya plesetkan dari nama brand roti ternama yang baru-baru ini ramai dibicarakan publik karena tersenggol sentimen keimanan.

Di Indonesia, sentimen keimanan bisa menimbulkan krisis kehumasan yang besar. Kalau kita ingat, dulu pernah ada kasus Ajinomoto, Colgate, dan Dancow. Ketiga brand itu tersenggol isu sensitif, yaitu lemak babi. Isu lemak babi cepat sekali menjadi viral, sebab sensitivitas Muslim terhadap babi begitu tinggi. Sedikit saja isu lemak babi menyenggol suatu brand, maka dampaknya langsung mengena ke omzet penjualan. Belum lagi dampak boikot produk hingga amuk massa.

Kasus brand yang tersenggol isu lemak babi memang mirip dengan Sari Roti. Sama-sama terkait sentimen keimanan. Hanya, jika penanganan kasus-kasus tersebut dijadikan referensi Sari Roti, maka hal itu jelas salah besar. Yang tersakiti memang sama-sama umat Muslim, tapi situasinya berbeda. Peletupnya juga tidak sama.

Di luar polemik bahwa ini adalah gerakan politik, toh tetap saja Sari Roti membutuhkan solusi untuk keberlangsungan reputasi. Akankah Sari Roti bernasib seperti Colgate yang menyenggol sentimen keimanan umat Islam, atau terus berkibar seperti Dancow yang sukses mengambil kembali hati konsumen Muslim?

Seberapa jauh sebuah brand akan ditinggalkan oleh konsumen saat krisis terjadi, tergantung pada kedalaman ikatan emosi yang dibangun dan bagaimana brand-brand pengganti (subtitusi). Bila kita sekadar melihatnya sebagai komoditas, roti memang bukan makanan utama, sehingga mudah mencari penggantinya.

Tabungan Emosi

Sebelum kejadian krisis PR Sari Roti yang terpicu peristiwa 212, produk roti tersebut termasuk yang memiliki kedekatan tinggi dengan pelanggannya. Sekalipun belum sekuat Indomie, Sari Roti sudah hampir identik dengan sarapan pagi anak-anak. Menjadi andalan ibu-ibu rumah tangga, pekerja kantor, atau siapapun yang ingin praktis menyiapkan sarapan.

Sari Roti sudah memiliki “tabungan emosi” konsumen. Ada banyak “utang emosi” konsumen kepada Sari Roti yang bisa dikapitalisasi menjadi modal “penebus dosa”. Tinggal bagaimana caranya, inilah yang menjadi tantangan bagi Sari Roti.

Tantangan pertama adalah bagaimana Sari Roti mau menjadi “Sori” Roti. Jelas bukan dengan mengubah nama brand, namun bagaimana Sari Roti menurunkan pesan Sorry dalam bentuk kecerdasan emosi yang menciptakan mutual benefit dengan umat Islam. Jelas tidak mudah. Butuh kerendahan ego para direksi dan pemilik Sari Roti.

Munculnya kasus Sari Roti juga bisa menjadi alarm bagi PT Nippon Indosari Corpindo dan PT Indofood Sukses Makmur selaku pemilik brand. Bagaimana jika sentimen Sari Roti merambat ke produk mereka lainnya? Dalam situasi di mana kontrol media ada di tangan publik, maka hal apapun bisa saja terjadi dengan begitu cepat. Sebagai bukti, dalam beberapa jam pasca siaran pers dikeluarkan oleh Sari Roti sudah berseliweran informasi yang berkaitan dengan grup Sari Roti.

Jika melihat kasus Dancow, ketika itu merek susu ini meredam suasana dengan mengundang beberapa ulama. Kemudian mereka secara demonstratif minum susu Dancow di depan kamera televisi. Cara ini jelas tidak cukup bila ditiru Sari Roti. Lalu apa? Setelah blunder dengan siaran pers, mereka lalu panik dengan mematikan websitenya.

Sepengetahuan saya tidak ada Kosultan PR yang membantu Sari Roti merumuskan strategi agar keluar dari krisis PR. Karena itu, mari kita tunggu kecerdasan tim PR internal Sari Roti untuk bermanuver. Itu bakal lebih seru.

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST