Surabaya North Quay, Dedikasi Pelindo III
02 Oktober 2016
Ratna Kartika
1
Surabaya North Quay, Dedikasi Pelindo III

Sejak dibuka akhir Februari 2016, Surabaya North Quay (SNQ), Terminal Pelabuhan Tanjung Perak, terus menjadi perbincangan. Terminal tempat menaikkan dan menurunkan penumpang kapal laut itu disebut-sebut tidak hanya terminal modern, tapi juga sebagai destinasi wisata baru bagi masyarakat, khususnya warga Surabaya. Tak hanya itu, lintas massa juga disesaki dengan tanda pagar #SurabayaNorthQuay. Para generasi millennials tampaknya belum eksis jika belum selfie di depan nama terminal yang fenomenal itu.

SNQ membuat kita lupa dengan wajah kumuh dan kotor yang menjadi pemandangan identik di hampir semua pelabuhan di Indonesia. “Inilah bentuk dedikasi PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) untuk negeri,” ujar Edi Priyanto, VP Corporate Communication Pelindo III, yang ditemui Majalah PR INDONESIA di Jakarta, Kamis (18/8/2016).

Ladang Edukasi

Berawal dari keprihatinan kondisi penumpang di terminal kapal laut yang kerap dianaktirikan, mendorong perusahaan pelat merah ini memberikan kenyaman dan fasilitas layaknya bintang lima. Apalagi Presiden RI Joko Widodo bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Kenyataannya, anak-anak bahkan kita tidak pernah tahu seperti apa aktivitas di pelabuhan. Mulai dari kegiatan kapal bersandar, kapal lepas sandar, pemanduan dan penundaan, bongkar muat barang, embarkasi/debarkasi penumpang kapal laut, berbagai jenis kapal seperti barang, roro, bahkan kapal pesiar.   

Sekarang, dengan mengoptimalkan lantai tiga terminal, penumpang kapal laut termasuk masyarakat, bisa melihat semua aktivitas itu dari dekat tanpa sekat. Apalagi terminal yang tadinya hanya dibuka untuk umum selama tiga hari dalam semingggu, kali ini dibuka sepanjang hari kecuali Senin. Itu pun tanpa dipungut biaya.

“SNQ tidak hanya menyangkut soal upaya memberikan kenyamanan dan fasilitas yang memadai bagi penumpang. Lebih dari itu, tempat edukasi kemaritiman secara menyeluruh, termasuk perkembangan Tol Laut yang menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah,” kata Edi seraya menambahkan antusiasme publik terus meningkat terutama saat pre-launching. Ketika itu, kapal pesiar Ms. Rotterdam bersandar selama dua hari di Pelabuhan Tanjung Perak.

Selain itu, SNQ adalah mini etalase seni dan budaya Jawa Timur mulai dari Batik Madura, Jaranan, Topeng Malangan, Keroncong, Gamelan, Tari Remo, hingga musik khas Jawa Timur—patrol. Tak ketinggalan, menjadi surga belanja karena terdapat banyak stan milik UMKM yang menawarkan berbagai produk berdaya saing, menarik dan unik. Serta, surga kuliner bagi penikmat makanan khas tradisional, khususnya Jawa Timur. Sebut saja, kreco—keong sawah rebus dengan kuah kaya rempah, khas Surabaya. “Kehadiran SNQ memberikan alternatif lokasi liburan dan refreshing bersama keluarga,” imbuh Edi.

Dengan tujuan dan konsep yang matang, Edi mengaku tak memerlukan upaya ekstra untuk memopulerkan SNQ. Resep “datang dan rasakan” dinilainya sebagai metode paling jitu. “Kami mengundang komunitas tertentu seperti jurnalis, blogger, dan fotografer untuk melakukan kunjungan ke lokasi. Kami juga mengajak forum atau asosiasi untuk mengadakan event di sini,” pungkasnya. Alhasil, Pelindo III diganjar sebagai pemenang pertama IPRAS 2016 kategori Korporasi BUMN.  rtn

 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (1)
image profile
kanda_pratama
04 Oct 2016 at 06:01 wib
Reply
wiih, kalo semua terminal kapal laut di Indonesia di bikin seperti ini pasti bagus

LATEST POST