Gerakan Family Business Inc. di IBF 2016
02 Oktober 2016
Ratna Kartika
0
Gerakan Family Business Inc. di IBF 2016

Kali ini, dalam episode tahun 2016, IBF mengusung corporate brand, tentang pentingya kolaborasi perusahaan keluarga menuju Indonesia Besar. Program Director Indonesia Brand Forum (IBF) Yuswohady mengungkapkan, di era globalisasi merek (brand) merupakan alat perjuangan yang ampuh bagi Indonesia untuk menjadi negara besar dan disegani di dunia.

“Berkaca dari negara-negara besar dunia seperti Amerika besar karena punya Coca Cola, Starbucks atau GE. Jepang besar karena punya Sony, Toyota, atau Canon. Korea Selatan besar karena Samsung, Hyundai, atau Kia,” kata Yuswohady kepada PR INDONESIA, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (24/8/2016).

Mengutip data PricewaterhouseCoopers (PwC) 2014, Yuswohady menyebutkan, lebih dari 95 persen perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga dengan total kekayaan mencapai 134 miliar dolar AS, atau sekitar 25 persen dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Bahkan, sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga. “Karena posisinya yang sangat strategis, IBF mengusulkan perusahaan keluarga di Indonesia bersatu dan menyamakan langkah untuk masuk dan bersiang di pasar global, melalui Family Business Inc.,” tegasnya.

Upaya itu antara lain saling berkolaborasi ketika berkiprah di level global dengan melakukan sinergi sumber daya, jejaring bisnis, pertukaran informasi, hingga benchmarking pengalaman yang menghasilkan kekuatan gabungan luar biasa.

Pada level berikutnya, Family Business Inc. juga perlu berkolaborasi dengan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar penetrasi produk Indonesia makin kuat di pasar global. “Pemerintah sudah memiliki modalnya. Yaitu, strategic holding BUMN perkebunan, farmasi, bank, dan sebagainya. Kalau mau jadi pemain global harus digabung. Seperti di Jepang ada Japan Inc., di Indonesia juga harus ada Indonesia Inc.,” jelasnya.

Naikkan Posisi Tawar

Ide tersebut disambut baik oleh para pemilik perusahaan keluarga yang hadir dalam forum IBF 2016. Erijanto Djajasudarma, CEO PT Niramas Utama Food & Beverages Industry, mengapresiasi ide Family Business Inc. dan Indonesia Inc. Selama ini ia miris melihat brand Indonesia di luar negeri yang berjalan sendiri-sendiri. “Bagusnya saling kolaborasi bersama membawa nama Indonesia agar produk yang lahir di Indonesia dikenal di dunia,” katanya.

Dukungan senada disuarakan Presdir PT Martina Berto Tbk, Bryan Tilaar. Sejak awal ia mendukung inisiatif tersebut. “Selama ini kita terlalu liberal, bank asing bebas beroperasi di Indonesia, tapi kalau kita mau buka di luar sulit sekali. Kalau kita bisa saling berkolaborasi tentu bargaining power kita dengan negara lain akan naik. Kalau negara lain bias, kenapa kita tidak bisa?” tegasnya.

Agar ide ini tak sekadar pepesan kosong, perlu langkah konkrit mewujudkannya. Menurut penulis buku The 2nd G Challanges,  Samuel Pranata, langkah konkrit dapat dilalukan dengan tiga C yaitu connect alias saling bertemu, lalu berkolaborasi secara nyata (collaboration), dan bersaing (compete) dengan negara lain. “Mari kita bangun merek Indonesia menjadi brand global,” katanya.

Selain seminar, acara bertema “Branding Family Business: Lestari dari Generasi ke Generasi”, ini juga diintegrasikan dengan kegiatan pameran, awarding, penerbitan buku, community blogging, kampanye media, dan corporate social responsibility (CSR). Di tengah acara juga ditampilkan sesi BNI’s 7 Entrepreneur Heroes. nif

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST