Mengatrol Reputasi dengan Digital PR
02 Oktober 2016
Ratna Kartika
0
Mengatrol Reputasi dengan Digital PR

Menurut Managing Director Ogilvy PR, Marianne Admardatine, sejatinya investasi di digital memiliki tingkat kembali empat kali lipat lebih tinggi dibanding tools lainnya. Namun, sayangnya masih banyak perusahaan yang belum beranjak mindset-nya sehingga spending-nya masih lebih besar ke advertising.

Perempuan berdarah Cekoslovakia dan Malang ini mensinyalir, hal itu terjadi karena budaya di perusahaan-perusahaan belum mau berubah, banyak hal baru yang sulit dan capek untuk diikuti, kurangnya talent di bidang digital, adanya anggapan bahwa biaya digital PR lebih mahal dari TVC (TV Commercial/iklan TV), serta regulasi yang kalah cepat dari digital.

Marianne mengingatkan, digital PR sesungguhnya hanya salah satu channel dalam 3600 communications channels. “Apalagi sekarang the line is blur, sudah tidak seperti dulu lagi PR berdiri sendiri hanya di corporate PR, sedangkan brand di marcomm. Ekspektasi klien kepada agensi PR juga tinggi sekali,” katanya dalam PR Meet Up #6 yang digelar Majalah PR INDONESIA bekerjasama dengan Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) di Gedung Dewan Pers lantai 6, Jakarta, Jumat (2/9/2016).

Karena itu, lanjut dia, konsultan ketika bertemu klien kini dituntut tidak hanya menjual PR, lebih dari itu menawarkan solusi komunikasi secara komprehensif melalui berbagai kanal yang relevan. Namun, apapun channel yang digunakan, hal mendasar yang harus disiapkan dalam merancang kampanye PR adalah konten yang bagus. Untuk memilih konten yang bagus perlu langkah kurasi. “Konten yang bagus harus punya purpose, tidak sekadar membicarakan kelebihan kita, tapi kita harus tahu apa yang menarik bagi audiens,” katanya.

Ia mencontohkan, kampanye pariwisata Indonesia yang dibuat untuk menjaring turis dari Tiongkok merupakan kampanye yang berangkat dari konsep PR, tapi cara melahirkannya menggunakan channel advertising dan social influence engagement. “Ini sangat PR, tapi cara kita menyampaikannya sudah bukan model PR konvensional lagi. Semua kanal (media)  harus dipakai,” katanya.

Selain Marianne, PR Meet Up #6 bertema “Digital PR and Social Media Campaign” juga menghadirkan pembicara Dimas Novriandi (Jenius Social Brand Activation and PR Lead BTPN) dan Djayawarman Alamprabu (Tenaga Humas Pemerintah Kementerian Pertanian). Lima puluh peserta dari praktisi PR perusahaan swasta, BUMN, agensi PR, kementerian/lembaga, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi hadir dalam forum ini.

Maksimalkan SEO

Di kesempatan kedua giliran Dimas Novriandi menyampaikan materi tentang PR dan Digital. Menurut pria yang pernah berkarier di agensi PR dan korporasi ini, PR di era digital mengalami banyak perubahan dibanding PR konvensional. Dari sisi media yang digunakan, jika sebelumnya PR hanya bisa bicara dari one to many, kini bisa one to one dan many to many.

Dalam digital PR, seorang PR profesional harus bisa membuat konten komunikasi di berbagai media yang berbeda. Ketika membuat press release, misalnya, harus memperhatikan search engine optimization (SEO) mulai dari pilihan judul, kalimat pertama, hingga isi secara keseluruhan. “Dengan begitu ketika di-googling langsung keluar. Ini merupakan hal yang tak terpikirkan di PR konvensional,” ujarnya.

Untuk meningkatkan SEO, Dimas membagi enam tips. Pertama, gunakan tools gratis dari google seperti google+ untuk menandai lokasi bisnis kita. Kedua, selalu sertakan link website perusahaan ketika berkomunikasi dengan jurnalis. Ketiga, hyperlink news releases. Ini akan membuat blogger memberikan hyperlink ke press release yang diunggah di laman resmi perusahaan.

Keempat, letakkan keyword di paragraf pertama. Bila perlu ulang keyword di judul, alinea pertama, kedua, dan ketiga. “Agar tidak sia-sia, ketika bekerjasama dengan blogger, sampaikan keyword tersebut sehingga mereka akan menulis dengan keyword yang sama,” katanya. “Nah, yang kelima, mulailah ngeblog secara konsisten. Terakhir, bersahabatlah dengan web developer Anda,” tambahnya.

Kini, salah satu tools yang efektif untuk meningkatkan reach di digital adalah influencer. PR kini perlu memikirkan bekerjasama dengan key opinion leaders, mulai dari selebritis, mikroselebritis (influencer), dan komunitas on-line (blogger). “Tapi, harus hati-hati, pastikan isu yang disampaikan tidak fireback ke kita. Ketika kita bisa masuk media sosial dan tahu apa yang dilakukan, lakukanlah. Tapi, kalau tidak, jangan lakukan sama sekali,” katanya. nif

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST