Rapuh
02 Oktober 2016
Ratna Kartika
0
Rapuh

Jika berkait dengan reputasi, tampaknya perlu berpikir ulang. Begitu rapuh reputasi itu. Bertahun-tahun hingga ratusan tahun dibangun, hanya butuh beberapa detik untuk meruntuhkannya. Bahkan, hingga luluh lantak. Reputasi memang bukanlah batangan baja yang kuat menahan beban, terpaan angin, teriknya mentari, gerusan air hujan, hingga badai berkekuatan tertentu selama kurun waktu yang panjang.

Hari-hari ini, publik kembali dipertontonkan sulitnya menjaga reputasi yang sudah coba dibangun cukup lama. Dan, lagi-lagi, menimpa pada sejumlah pejabat publik. Kasusnya selalu salah satu atau dua hal berikut: korupsi atau narkoba. Sulit memahami seorang pejabat publik yang selama ini dikenal santun dan tengah memperjuangkan marwah lembaganya, tiba-tiba harus berurusan dengan aparat penegak hukum lantaran kena operasi tangkap tangan dugaan penyalahgunaan kewenangan. Memang masih bersifat dugaan. Tapi, reputasi yang dipertaruhkan, seketika langsung terkoreksi tajam.

Reputasi, memang begitu rapuh. Ia bahkan bisa serapuh hati yang diombang-ambingkan perasaan asmara yang tak kunjung jelas arahnya. Begitu rentannya oleh beragam jenis “badai”, maka reputasi butuh penjagaan yang sangat ketat. Super ketat bahkan. Seketat lapis penjara Guantanamo, Kuba, yang dikenal sebagai sarang hunian penjahat kelas kakap di Amerika Serikat.

Sikap Tamak

Musuh reputasi yang paling mengerikan adalah sikap tamak (greedy). Tamak alias rakus,  bagaikan pisau tersembunyi yang bisa menikam reputasi kapan pun dan di mana pun. Tak peduli sang pemilik reputasi–pribadi maupun korporasi/organisasi—selama ini dikenal santun, menyenangkan, ramah, baik, dan segala macam sifat positif lainnya. Begitu virus tamak datang–entah dengan pemicu apapun, bisa karena demi menolong teman, dll—seketika reputasi terancam bahaya.

Walau memendam sinyal bahaya yang tidak ringan, reputasi justru menjadi incaran nyaris semua entitas pribadi dan organisasi/korporasi. Ia, dijadikan target utama pencapaian tertinggi. Ilmu dan praktik tentang public relations (PR) kerap kali digunakan demi mendukung kepentingan pencapaian reputasi tersebut. Dengan atau tanpa biaya besar.

Adakah yang salah dengan reputasi? Jelas saja tidak. Reputasi adalah atribut. Yang terpenting adalah subyeknya, pribadi atau organisasi. Siapapun, layak menggapai sebuah reputasi melalui jalan pendek ataupun panjang. Berliku atau mulus rutenya. Ketika seseorang atau organisasi pantas mendapatkannya, reputasi akan datang menghampiri. Karena, reputasi diukur oleh portofolio (track record) selama suatu kurun waktu tertentu.

Yang jadi masalah, hanyalah ketidaksadaran betapa reputasi itu memendam sifat rapuh. Sewaktu-waktu bisa hancur tanpa diduga-duga. Menjadi penting untuk selalu mengingatkan, bahwa reputasi itu berharga sangat mahal, bahkan di saat masih sangat jauh dari tubir jurang kehancuran. Begitu banyak energi yang harus dilimpahkan untuk membangunnya kembali ketika reputasi hancur. Terutama kehancuran yang diakibatkan sikap tamak, bukan karena bencana alam atau kecelakaan yang tak terduga.

Jadi? Menjaga agar tidak memiliki sikap tamak, rasanya jauh lebih baik ketimbang sekadar memikirkan memoles reputasi dari waktu ke waktu. Agar bahaya laten kerapuhan reputasi bisa terus dijaga dengan kesadaran penuh. Tabik! asmono wikan

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST