Menjadi Perusahaan yang Autentik
05 Juli 2019
Ratna Kartika
0
Menjadi Perusahaan yang Autentik
Menggali konsep perusahaan yang autentik.
Ratna/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO –   Konsep autentic enterprise sebenarnya sudah muncul ke permukaan sejak tahun 2008. Tepatnya, ketika Arthur W. Page Society, asosiasi profesional untuk public relations (PR) senior dan eksekutif komunikasi korporat, menerbitkan whitepaper berjudul The Authentic Enterprise.  

Buku ini mengulas pemikiran pemimpinan tentang tantangan dan problematika yang harus dihadapi perusahaan untuk meningkatkan transparansi sebagai bagian mengelola kepercayaan dan reputasi. Buku ini juga mendefinisikan peran dan fungsi komunikasi, serta Chief Communication Officer (CCO) dalam mengelola tantangan tersebut. Konsep inilah yang disampaikan oleh Ega, sapaan karib Elizabeth, di hadapan peserta Executive Program in Strategic Communication di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Menurutnya, era digital di mana publik semakin menuntut keterbukaan, perusahaan harus memiliki kemampuan mengelola transparansi untuk menjadi perusahaan yang dapat dipercaya (autentik). Upaya ini harus dilakukan agar mereka mampu bertahan ditengah kerasnya kompetisi.

Ega mengatakan, perusahaan yang autentik ditentukan oleh nilai (values), prinsip, beliefs, misi, tujuan, konsistensi, perilaku, dan aksinya. Ada isu fundamental yang harus dihadapi perusahaan untuk mendapatkan kepercayaan. Antara lain, bagaimana perusahaan dapat mempertahankan dan membangun kepercayaan publik yang memiliki cara pandang berbeda, mempertahankan kepercayaan dan merangkul permintaan pemangku kepentingan yang makin beragam dan kompleks, serta mampu mencapai integrasi dan transparansi secara global di berbagai aspek mulai dari peraturan, hukum, budaya, sampai politik.

Sementara itu, untuk mendapat kepercayaan, cara menyampaikannya pun harus transparan. “What you say, what you are. Stop membuat klaim. Trust itu harus dirasakan sedangkan values diungkapkan dari perilaku perusahaan, bukan perkataan,” ujar Ega.  

 

Peran PR

Lalu di mana peran dan kontribusi PR? Menurut Ega, PR baru dapat memberikan berkontribusi yang signifikan jika manajemen mengharapkan demikian. Selain itu, ditentukan dengan kebutuhan dan perkembangan visi dan misi dari perusahaan. “Idealnya, PR bukan jadi sekadar alat untuk promosi dan publikasi, tapi merupakan bagian dari fungsi manajemen,” ujar perempuan yang hari itu turut mengisi tema The Strategic Role of Research in Communication Management.

Mereka yang ada di posisi tersebut adalah PR yang mendapat fungsi melakukan diagnosis masalah (environmental scanning), early warning sistem (manajemen isu), penasihat manajemen (scenario building), dan korporat mau mengikuti arahan PR sebagai upaya untuk menghindari masalah yang lebih besar. Untuk itu, PR harus hadir di semua lini mulai dari kalangan internal sampai eksternal.   

Selain Ega, program ini diisi oleh pembicara lain seperti founder dan Chairman Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja dan Regional Digital Marketing Director Modalku Alexander Christian. Materinya meliputi Corporate Reputation Risk in Digital World, The Impact of Digital on People’s Behavior, dan The Challenge of New CCO.

Menurut Erika Ananto, Managing Director EGA briefings, program intensif bagi para pelaku PR/komunikasi ini sudah berlangsung sejak tahun 2009. Awalnya, berlangsung selama lima minggu. Seiring berjalannya waktu, program ini mengalami penyesuaian dari segi materi, tempat pelaksanaan, sampai durasi penyelenggaraan. Tahun ini, program ini hanya berlangsung selama dua hari, tapi diadakan lebih sering setiap 3 – 4 bulan sekali. “Aktivitasnya sama. Dimulai dari conceptual development, manfaat dan metodologi riset, risiko, kasus studi, sampai simulasi,” ujarnya. (rtn)   

  

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI