Febriati Nadira, PT Adaro Energy Tbk: Banyak Mendengar
14 June 2019
rizka
0
Febriati Nadira, PT Adaro Energy Tbk: Banyak Mendengar
Keluar dari zona nyaman
Dok. Pribadi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Ya, di kalangan praktisi public relations (PR), Ira dikenal sebagai PR spesialis telekomunikasi. Bagaimana tidak, ia sudah berkecimpung di industri tersebut selama 16 tahun. Bahkan, ia memulainya dari bawah, yakni customer service.


Tahun 2015, ia memberanikan diri memulai lembaran sekaligus tantangan baru dengan terjun sebagai Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang energi yang identik didominasi oleh kaum Adam dan merupakan industri masa depan yang menjadi penopang dan penggerak ekonomi Indonesia.


Menurut perempuan kelahiran Situbondo, 18 Februari 1975, ini pada dasarnya tugas PR di industri mana pun ditempatkan adalah sama. Yakni, wajib membuat strategi komunikasi yang cocok dengan ceruk pasar yang dituju. Bedanya, saat ini peran PR dipandang makin kritikal dan strategik.

Untuk dapat menjalankan peran yang diharapkan, pengagum Prita Kemal Gani itu berkesimpulan, praktisi PR harus mampu menjadi reliable activist, change movement dan technology proponent. Sebagai reliable activist, PR dituntut lebih proaktif karena bisnis semakin hari semakin kompetitif, responsif melayani berbagai kebutuhan atas informasi dengan tepat waktu dan news-worthy, melengkapi diri dengan data dan newsvalued content, serta dapat dihubungi selama hampir 24/7.


Sementara sebagai change movement, praktisi PR harus dapat mengetahui dan memahami kebutuhan seluruh stakeholders, menerjemahkannya ke dalam strategi taktis, sekaligus menjadi tim kreatif yang menginisiasi ide, dan memimpin berbagai aktivitas yang dapat mendorong perusahaan untuk lebih maju. Terakhir, untuk dapat menjadi technology proponent, PR harus dapat hadir dalam berbagai platform yang berbeda.


Maka, fokus utama Ira di PT Adaro Energy Tbk kala itu adalah membangun awareness dan pemahaman kepada seluruh stakeholder mengenai pentingnya peran pertambangan serta energi bagi masyarakat dan negara. “Upaya tadi tak bisa dibilang mudah karena stigma negatif sudah terlanjur melekat di industri ini,” ujar lulusan Strategic Marketing Management, New York University Stern School of Business, Amerika Serikat itu. (rtn/rvh)

 

Selengkapnya baca PR INDONESIA versi cetak dan SCOOP edisi 50/Mei 2019. Hubungi Sekhudin: 0811-939-027, [email protected]

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI