Empat Kunci Merangkai Pesan Tunggal
23 April 2019
aisyah
0
Empat Kunci Merangkai Pesan Tunggal
Ada empat poin utama yang harus dipahami public relations (PR) saat menyusun pesan kunci meliputi, brand essence, brand promise, target insight, dan alasan pendukung.
Dok. PR INDONESIA/ Aisyah

SURABAYA, PRINDONESIA.CO - Pesan tunggal adalah pokok dari maksud atau tujuan diluncurkannya sebuah brand/program PR agar mencapai target audiens yang diinginkan. Pesan tunggal yang tepat selanjutnya menjadi landasan komunikasi, brand institusi, dan gerakan dalam melaksanakan kampanye PR. Ada empat poin utama yang harus dipahami public relations (PR). Meliputi, brand essence, brand promise, target insight, dan alasan pendukung.

Di hadapan peserta “The 22nd PR INDONESIA Workshop Series: How to Develop Creative Content for Empowering On-line and Off-line Public Relations Activities” di Surabaya, Kamis (7/2/2019), Managing Director Fortune PR Thomas Franky berbagi tips membuat pesan tunggal yang efektif. Antara lain:

“Brand Essence”

Brand essence adalah esensi dari sebuah brand/perusahaan/lembaga. “Kenali brand kita. Apakah perusahaan profit, lembaga keuangan, atau perusahaan milik negara?” ujarnya seraya bertanya.

“Brand Promise”

Sementara brand promise berkaitan dengan janji yang ditawarkan oleh perusahaan kepada publiknya, atau bahasa sederhananya: produk/program yang dijual ke masyarakat.

“Target Insight”

Komponen yang tak kalah penting adalah target insight. Target insight adalah perkiraan dari pemikiran/sikap yang ada dalam benak individu/masyarakat terhadap brand yang jarang didengar, namun bisa terasakan dari ekspresi, ucapan, atau perilaku. “Dari hasil survei, kita gali lebih dalam lagi. Sebab apa yang ada di dalam benak, tidak semuanya bisa dicerminkan melalui kata-kata,” ujar pria bergaya nyentrik itu. Manfaatnya, untuk menyatukan persepsi antara brand dengan kelompok sasaran audiens yang dituju. Percayalah, setelah itu PR akan dapat dengan mudah merangkai pesan tunggal.

Alasan Pendukung

Selanjutnya, siapkan alasan pendukung guna memperkuat citra brand yang ditawarkan kepada publik. “Kenapa kita bisa mengklaim produknya yang terbaik? Apakah karena tidak ada produsen lain yang menawarkan produk serupa?” ujarnya memberi contoh. (ais)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI