Noke Kiroyan, Kiroyan Partners: Komunikasi Itu Membangun Pemahaman
19 Februari 2019
rizka
0
Noke Kiroyan, Kiroyan Partners: Komunikasi Itu Membangun Pemahaman
Public relations (PR) lebih kepada proses dan teknik. Sementara public affairs konteksnya lebih besar karena harus memahami kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Roni/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Siapa yang tidak mengenal Noke? Pengalamannya sebagai CEO di berbagai industri mulai dari pertambangan, oleochemicals, sampai energi dan teknologi inovatif, membuat pria kelahiran Surabaya 13 September, 71 tahun lalu itu, makin meyakini besarnya peran komunikasi dan prinsip dalam merangkul stakeholders. Tahun 2007, ia memutuskan turun dari singgasana untuk membangun “kerajaannya” sendiri. Kerajaan itu ia beri nama Kiroyan Partners Public Affairs. Berikut kisahnya.

Kenapa pilihannya jatuh kepada perusahaan jasa konsultan?

Perusahaan pada dasarnya mencakup tiga bidang: industri, berdagang, jasa. Industri perlu modal besar. Saya bukan orang miskin, tapi juga bukan orang kaya. Dagang, saya punya modal, tapi saya tidak ada bakat di sana. Maka, pilihannya adalah jasa. Khususnya, perusahaan yang menawarkan jasa konsultan public affairs.

Selama menjadi eksekutif di perusahaan tambang, saya sudah menggunakan hampir seluruh perusahaan konsultan public affairs yang ada di Jakarta, yang umumnya merupakan perusahaan asing. Saya juga memiliki latar belakang ilmu komunikasi. Jadi, secara teori, saya tahu. Secara praktik, saya memiliki ilmu sosial yang kuat, saya sudah melalui banyak pengalaman dan permasalahan di lapangan. Awal Januari 2007, saya mantap mendirikan PT Komunikasi Kinerja, Kiroyan Partners Public Affairs.

Nah, begitu tahu saya membuka perusahaan jasa konsultan, orang-orang di perusahaan konsultan yang dulu saya adalah kliennya mereka, datang satu per satu. Mereka bilang, “Kenapa Anda tidak bilang kalau mau mendirikan konsultan? Anda bisa bergabung dengan kami.”

Lalu, Anda menjawab apa?

“Justru saya enggak mau cerita karena saya mau berkompetisi dengan Anda. Dan, saya yakin saya menang!” Ha-ha-ha!

Kenapa Anda memilih spesialisasi di public affairs?

Public affairs itu tidak semata-mata soal dinamika berhubungan dengan pemerintah. Public affairs yang kita pahami sekarang adalah komunikasi atau menjalin hubungan dengan stakeholder dengan memperhatikan konteks politik, ekonomi, sosial, budaya. Sederhananya, membangun komunikasi atau stakeholder engagement dalam konteks suatu budaya tertentu. Jadi, kalau public relations (PR) itu lebih kepada proses dan teknik, kalau public affairs konteksnya lebih besar karena harus memahami semua kondisi tadi.

Katakanlah ada perusahaan tambang mau beroperasi, kita sebagai konsultan public affairs akan melakukan penelitian/analisis secara komprehensif dan mendalam mulai dari kondisi politik, sosial, budaya, ekonomi di sana. Maka dari itu, tim kami di sini terdiri dari berbagai latar belakang ilmu mulai dari politik, sosiologi, hubungan luar negeri, banyak lagi.

Setelah mengetahui kebutuhan masyarakat, apa yang membuat masyarakat membutuhkan itu, apa yang mereka inginkan ketika perusahaan beroperasi di situ, apa dampak terhadap perusahaan ketika beroperasi di sana, baru kita bisa membuat strategi stakeholder engagement dan strategi komunikasi. Jadi, bukan semata-mata proses komunikasi dan tekniknya, tapi juga konteksnya.

Adakah pengalaman paling menantang saat menjadi konsultan?

Banyak, sih. Apalagi klien kami berasal dari berbagai latar belakang industri. Salah satu yang menantang adalah ketika perusahaan yang menjadi klien kami dituduh mencemari lingkungan. Kalau sudah begini, kami akan kirim tim ke lokasi untuk memastikan kebenaran. Kalau benar mencemari, kami tidak akan bela. Kecuali, dia terus terang dan berkomitmen akan mengatasi pencemaran itu. Tapi, kalau ternyata tidak melakukan pencemaran, ayo kita susun strategi, termasuk strategi pendekatan kepada masyarakat.

Jadi, pada prinsipnya, kita tidak mau membela yang salah. Atau, spinning— kenyataannya mencemari, tapi mengatakan yang sebaliknya. Sebagai perusahaan yang beretika, kami berprinsip menyelesaikan setiap masalah dengan cara yang juga beretika.

Kita harus selalu bekerja atas dasar fakta, didahului oleh penilaian di belakang meja. Kalau perlu, kita tindak lanjuti dengan penelitian di lapangan. Langkah-langkah mitigasi seperti ini harus dilakukan apalagi bagi perusahaan yang bergerak di industri tambang. Sebab industri ini rentan isu, terutama soal pencemaran dan gesekan dengan masyarakat terdampak.

Ketika perusahaan sedang krisis, hal pertama apa yang harus dilakukan?

Nomor satu, jangan panik. Ketika panik, kita memang terlihat aktif, tapi tidak ada hasilnya. Maka dari itu, lihat dan hadapi masalah dengan kepala dingin. Telaah dengan baik, baru kemudian kita cari permasalahannya.

Menurut Anda, apa perbedaan PR dan konsultan PR dulu dengan sekarang?

Jelas jauh lebih rumit, apalagi dengan hadirnya media sosial. Tapi, perkembangan teknologi dan komunikasi itu, menurut saya, hanya masalah teknis. Keberadaannya bisa jadi ancaman, tapi juga peluang. Untuk itu, kita harus menguasai, mendalami dan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi masalah dari dan dengan adanya perkembangan itu.

Kompetensi apa yang harus dimiliki PR di era saat ini?

Kemampuan analitis penting sekali, selain kemampuan berstrategi dengan implementasi yang jelas. Sebab ketika salah menganalisis, solusinya jadi tidak tepat.

Apa yang ingin Anda wariskan untuk Kiroyan Partners?

Saya ingin perusahaan ini tetap menjalankan aktivitasnya dengan beretika dan ke depan bisa go public.

Mimpi itu terus Anda kawal. Bahkan, saya mendapat informasi, meski sekarang Anda tidak lagi duduk sebagai CEO Kiroyan Partners, Anda tetap datang ke kantor paling pagi?

Ha-ha-ha! Itu benar! Sudah menjadi kebiasaan, tidak hanya di KP, saya selalu menjadi orang pertama yang datang ke kantor. Karena ketika saya datang lebih awal, saya bisa belajar dulu, baca koran, mengikuti perkembangan melalui informasi yang saya dapat dari internet, dan sebagainya.

Apa prinsip hidup Anda?

Jangan mudah menyerah. Dalam hidup, kita juga harus punya prinsip dan jangan jadi orang yang oportunistik.

Adakah dari ketiga anak Anda yang mengikuti jejak Anda di sini?

Dulu, anak saya yang bungsu sempat bekerja di perusahaan ini. Dia adalah sarjana komunikasi. Setelah menikah, dia menetap bersama suaminya dan bekerja sebagai PR di Singapura.

Sejak semula, saya memang tidak merencanakan perusahaan ini menjadi perusahaan keluarga. Saya bahkan melarang keluarga saya untuk ikut campur menjalankan perusahaan ini. Perusahaan ini adalah perusahaan yang dibangun secara profesional. Siapa pun bisa meneruskan dan memimpin perusahaan ini asalkan dia kompeten dan menjunjung tinggi misi, visi, serta etika perusahaan.

Apa pesan Anda untuk praktisi PR?

Terus perdalam ilmu, jangan puas dengan ilmu yang sudah dimiliki karena ilmu tidak akan pernah berhenti berkembang dan kita harus mengikuti. Kalau berhenti belajar, tamatlah kita. (rtn)

 

Selengkapnya baca PR INDONESIA versi cetak dan SCOOP edisi 40/ Juli 2018Hubungi Sekhudin: 0811-939-027, [email protected]

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
image profile
rizka
.
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI