Agar Program CSR Tak Jadi Bumerang
21 November 2018
rizka
0
Agar Program CSR Tak Jadi Bumerang
CSR dapat menjadi risiko krisis
Rizka/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Pernyataan ini disampaikan oleh Timothy Coombs, Professor in Department of Communication Texas A&M University USA di Kampus MM Komunikasi Trisakti di Jakarta, Kamis (1/11/2018). Di acara seminar terbuka yang bertajuk “Effective Crisis Management in the Era of Digital Distruption”, ia berbagi pengalaman dan risetnya di bidang manajemen krisis dan CSR.

Coombs mengatakan, CSR telah menjadi aspek penting dari reputasi perusahaan. Tanggung jawab dari perusahaan inilah yang akan diingat oleh masyarakat saat korporasi bersangkutan diterpa krisis. Namun, CSR dapat menjadi bumerang atau risiko krisis baru bagi perusahaan.  Terutama, jika perusahaan terlanjur memberikan janji atau harapan kepada publik, namun pada praktiknya janji itu tidak mampu direalisasikan. Pun, jika diwujudkan, programnya gagal atau tidak sesuai ekspektasi (over-promise dan under-deliver).

“Perusahaan terlalu mengekspos kegiatan CSR-nya, tapi di lapangan mereka tidak mampu memenuhi harapan publik. Saat itulah terjadi krisis baru,” katanya. “Pemangku kepentingan menantang balik program CSR yang diklaim sudah dilakukan oleh perusahaan. Mereka menganggap perusahaan tidak bertanggung jawab,” imbuh Coombs.

Pernyataan Coombs diamini oleh Koordinator Program Magister Manajemen Komunikasi Universitas Trisakti Elizabeth Goenawan Ananto. Menurut perempuan yang karib disapa Ega ini, untuk membuktikan kesungguhan dan komitmen perusahaan melaksanakan program CSR perlu waktu yang lama dan kegiatan yang berkelanjutan. “Program CSR itu tidak bisa dikomunikasikan dalam sekali ekspos, tapi harus terus menerus dan berkelanjutan. Tujuannya, agar publik dapat melihat perkembangan, perubahan perilaku, hingga manfaat yang dirasakan dan keberhasilan dari program tersebut,” ujar founder EGA briefings ini. (rvh)

BACA JUGA
tentang penulis
image profile
rizka
.
komentar (0)

LATEST POST